Kenapa Kita Hidup Kena Pajak Padahal Datang ke Dunia Juga Gak Pernah Daftar
Pernah gak lagi diem, bengong, terus tiba-tiba kepikiran satu hal yang gak penting tapi ganggu pikiran: gue lahir tanpa diminta, tumbuh sambil jatuh bangun, dan tiba-tiba sekarang hidup gue kena pajak. Dari beli makan, kerja, punya barang, sampai mati pun masih ada urusan biaya. Hidup rasanya kayak masuk grup WhatsApp yang kita gak pernah join tapi gak bisa keluar.
Pajak Sebagai Tanda Eksistensi
Secara filosofis, pajak itu bukan cuma soal uang. Pajak adalah bukti bahwa kita masih diakui oleh sistem. Selama kita hidup, beraktivitas, dan berinteraksi dengan dunia, kita tercatat. Pajak datang sebagai penanda: lo ada, lo ikut main, dan lo bagian dari masyarakat.
Selama Masih Kena Tagihan, Berarti Masih Hidup
Agak ironis memang, tapi tagihan sering kali jadi pengingat eksistensi. Selama masih ada yang nagih, berarti kita belum dilupakan. Hidup modern diukur bukan cuma dari napas, tapi dari partisipasi. Pajak adalah bahasa resmi sistem buat bilang, “kami tahu kamu masih di sini”.
Kenapa Hidup Terasa Otomatis Mahal
Banyak orang ngerasa hidup mahal bukan karena gaya hidup, tapi karena hidup itu sendiri sudah berbiaya. Bahkan bertahan pun perlu transaksi. Pajak menempel di aktivitas, bukan di kemewahan. Mau hidup sederhana atau ribet, selama masih bergerak, sistem tetap jalan.
Pengalaman Receh yang Terlalu Umum
Gue pernah beli sesuatu yang rasanya sepele, lalu sadar ada pajaknya. Di situ gue ketawa sendiri. Bahkan keputusan kecil buat bertahan hidup pun ternyata punya implikasi kolektif. Ini bukan soal miskin atau kaya, tapi soal hidup bareng.
Apakah Pajak Itu Hukuman Atau Kesepakatan Tak Tertulis
Kita gak pernah tanda tangan kontrak waktu lahir, tapi secara diam-diam kita setuju buat hidup bersama orang lain. Pajak hadir sebagai bentuk iuran agar kekacauan gak total. Jalan ada, lampu nyala, layanan jalan. Walau sering bikin geleng kepala, konsep dasarnya adalah keteraturan.
Filsafat Warkop yang Jujur
Kalo hidup ini nongkrong rame-rame, pajak itu ibarat kopi yang harus dipesan. Lo boleh duduk lama, mikir berat, ngobrol ngalor ngidul, tapi tetap ada kontribusi minimal. Bukan karena dipaksa, tapi karena semua pakai ruang yang sama.
Kesimpulan yang Gak Sok Bijak
Kita hidup kena pajak bukan karena hidup itu jahat, tapi karena hidup itu kolektif. Selama kita masih jadi bagian dari sistem, ada konsekuensi yang ikut nempel. Pertanyaannya bukan lagi kenapa kita kena pajak, tapi apa yang kita lakukan dengan hidup yang sudah kita jalani ini. Kalo lo punya pandangan sendiri soal hidup, sistem, dan tagihan, kolom komentar selalu terbuka buat ngobrol tanpa merasa paling benar.
